Rabu, 04 Juni 2014

SERPIHAN SERBUK JIWA MEMBAKAR LANGIT KEDUA

SERPIHAN SERBUK JIWA
MEMBAKAR LANGIT KEDUA


Mata bertemu 
dengan mata
Kepala bertemu
dengan kepala.
Inilah aku...
Kata yang diam membisu
dari mulut yang bicara.
Aku kembali dari mesin
jalanya waktu
kuhancurkan tiang-tiang
penyangga saat aku
mulai membakar langit.
Agar engkau tahu
akulah dia...
Yang terlahir dari
pecahan cahaya
saat kegelapan
membelengguku
di ruang ribuan mantra.
Akulah dia
sang legendaris
yang terbungkus
kain doa-doa
dari manusia-manusia
yang mati mempertahankan
hidup atas nama cinta.
Akulah....
Pembebas
padaku ada ratusan
Kata sanjung dan
Ribuan kata maki.
Aku telah dipersenjatai
Pedang ditanganku
Siap menembus jantungmu.
Akulah secuil kisah
Yang hilang dari masa
lalu...
Aku...
Serpihan Serbuk Jiwa
Namaku.





AKULAH JANTUNG YANG BERSEMAYAM


AKULAH JANTUNG YANG BERSEMAYAM


Apakah itu cinta...???
Saat seorang perempuan
terluka oleh perlakuan
kekasihnya yang lebih
memilih perempuan lain
menjadi pendamping hidupnya.
Lalu dengan harapan
seperti seorang pengemis
dia berhubungan lagi
dengan lelaki itu yang adalah
suami orang.
jadi apakah itu cinta..???

Aku bisa pergi
kapan saja dan
dimana saja
aku bisa hidup.
Akulah bayangan
yang sembunyi
di balik kelopak matamu.
Akulah jantung
yang bersemayam
di belakang tulak rusukmu.

MEMBAKAR LANGIT YANG PERTAMA

MEMBAKAR LANGIT YANG PERTAMA


Kubawa sebuah Dian
tuk mencari dimana
keberadaanmu.
Di kegelapan
aku mencari jawaban.
Tentangmu
kisahmu
yang tak akan
pernah habis.
Waktu terus berputar
lihatlah aku...
Seperti tubuh
tanpa tulang.
Memikirkan apa yang
telah terjadi.
Ini berat
menguras perasaan.
Aku lelah
aku ingin keputusan.
Hari ini juga
Malam ini juga
Detik ini juga.
Atau aku akan
Membakar Langit.

DISEBELAHKU SEBUAH JAM TERUS BERGERAK



DISEBELAHKU SEBUAH JAM TERUS BERGERAK


Sampai mata terpejam
lalu bangun tak akan
habis untuk memikirkanmu.
Kegelisahan merantai
hati yang sepi tanpamu.
Seperti inikah saat kita
tidak tinggal bersama???
Otakku mengalami tekanan
bertanya sedang
apa dirimu disana.
Dengan siapa??
Garis yang samar
apa mungkin terbentuk
lukisan cinta.
Kata demi kata
begitu mudah terlontar
begitu saja dari mulutmu.
Seperti seorang Pujangga
yang dimabukkan oleh
anggur-anggur kebohongan.
Bicara denganmu
tidak memutuskan apa-apa.
Yang aku tahu
disebalahku sebuah jam
terus bergerak melawati
batas-batas waktu.
menunggu waktu yang tepat
sampai aku bangun dari
mimpi buruk ini.

AKU MENCINTAIMU

AKU MENCINTAIMU



Aku mencintaimu
dengan tulus dan apa adanya
Seperti saat turunya hujan
aku meneduhkanmu dengan
dedaunan dari pohonku
yang rindang.
Aku mencintaimu
dengan hati dan kesetiaanku.
Seperti seorang prajurit
yang siap mati
untuk rajanya.
Aku mencintaimu
lewat lembut bisikan
terpancar kuat tatapan
tanpa sebuah kata-kata
agar engkau mendengar
setiap detak didalam
jantungmu aku ada.

AKU MASIH SAMA SEPERTI DULU

AKU MASIH SAMA SEPERTI DULU


Sesalkan apa yang
telah terjadi
meskipun berat jalani
Cinta tak mengenal
kata lelah.
Disisihmu aku hidup
disampingmu aku damai
dihatimu aku berada.
Jalani semua kisah
lalui sebuah cerita
Dihadapan Matahari
Dihadapan Bulan
Kubuat sebuah janji
Apabila esok aku akan mati
usap tangisnya lalu
katakan padanya.
AKU MASIH SAMA SEPERTI DULU

BEGINIKAH SEHARUSNYA CINTA

BEGINIKAH SEHARUSNYA CINTA



Malam melukis
Ribuan bintang di langit.
Satu tahun
Sudah berlalu.
Tanpamu disisih.
Awalnya cinta
Akhirnya menjadi benci.
Api telah membakarku
Dengan panasnya masuki
Setiap celah-celah nadiku.
Tidak seperti dulu
Kini aku adalah tawan iblis.
Rantai mengikat dileherku
Seperti anjing penjaga
Dengan sorot mata yang tajam siap membunuh.
Tak ada lagi tawaran untuk
Hati yang telah tersakiti.
Beginikah seharusnya cinta???
Seolah engkau menganggapku paham
Tentangnya dan mulai berfikir oleh karena itu
aku menyombongkanya.
Mengertilah....
Cinta bukan dari kata-kata
Cinta bukan dari janji-janji
Sehingga dengan mulut
Manismu mengumbarnya
Seakan-akan itu adalah dasar
Dari jawaban segala
kegelisahan dan keraguanmu
Tuk dapat kau miliki.
Cinta itu seperti
Taburan benih-benih cahaya
Setitik terangnya mampu
Menerangi seluruh jiwamu.
Tanpa harus engkau pahami
Lewat kata-kata
Cukup engkau rasakan
Saat dia duduk bersemayam
Dilubuk hatimu.

DI POJOK SANA

DI POJOK SANA



Matamu adalah
Sebuah mata yang semu.
Saat dunia mulai merabunkanya dengan
Warna-warni kemewahan.
Tempat dimana gelak tawa
Pesta pora.
Kuarungi ribuan masa
Kujelajahi ribuan makna
Tidak ada yang seperti dirimu.
Yang menjalani hidup
Tanpa takut akan hari esok.
Coba tutup kedua matamu
Didalam kegelapan
Tepat didepan matamu
Dipojok sana...
Ketika tiga hari yang lalu
Aku mati terbunuh
Karena mencuri.

INILAH KISAHNYA

INILAH KISAHNYA





Kusandarkan perahuku.
Kususuri jalan setapak
jalan tempat menuju
puing-puing reruntuhan
kerajaan Mataram.
Setibaku disana
seorang guru besar
trah Panembahan Senopati.
Menyambutku
dengan karangan bunga Wijayakusuma...
Dibawaku
menjelajah menyusuri
pantai elok nan indah
Rumah megah istana air
Bunda Ratu.
Lalu saat aku menatap keatas
Aku melihat Syech maulana maghribi
sedang berbicara dengan Wali songo
untuk membunuh Syech siti Jenar
Sampai munculnya

Raja berwibawa 


di Selogilang. 


darinya terlahir Sultan Agung.


Disinilah awal perjalanan


yang baru


Dan inilah kisahnya...

PERJUANGAN TERUS BERLANJUT

PERJUANGAN TERUS BERLANJUT



Menghitam tanpa sebab.
Seperti apa aku dulu.
Didalam kasih aku
dipeluk.
Dibesarkan oleh tangis
air mata kehidupan.
Diberi air minum
susu terbaik bumi ini.
Diberi roti
makanan buatan
Dewi-dewi.
Sejauh apa jalanku
tidak ada satu
orangpun tau.
Diatas gunung di
Bukit Bambapuang.
Saat aku berhadapan
dengan Tomanurun Tambora
Langi dan Tomanurun
Manalepong Bulan.
Aku diajar awal peradaban.
Sampai di Lakiung
saat Syech Yusuf muda
bertemu tiga Datok
di danau Mawang.
Aku menemukan
ajaran Khalwatiah.
Menuju Fort Rotterdam
seorang Malombasi
daeng Mattawang.
Dengan gagah berani
mengusir tiga ribu
pasukan belanda
Yang datang
dari Batavia.
Disitulah aku sadar
Bahwa perjuangan
terus berlanjut
dan tidak berhenti di sini.