Selasa, 28 Agustus 2012

Pedang Nabi

Berikut adalah pedang-pedang yang pernah dipakai oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya untuk berdakwah, jumlah total pedang yang pernah digunakan ada 9 buah.


1. Al Ma’thur



Juga dikenal sebagai ‘Ma’thur Al-Fijar’ adalah pedang yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebelum dia menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberi oleh ayahnya, dan dibawa waktu hijrah dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama-sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib.



Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.



2. Al 'Adb



Al-’Adb, nama pedang ini, berarti “memotong” atau “tajam.” Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Dia menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.



3. Dhu Al Faqar



Dhu Al Faqar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan pada waktu perang Badr. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya.
Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.




4. Al Battar



Al Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai ‘Pedangnya para nabi', dan di dalam pedang ini terdapat tulisan Arab seperti berikut:
‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’.





Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean.



Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikhabarkan bahawa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika dia turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.



5. Hatf



Hatf adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang ‘Al Battar’ dari Goliath sebagai rampasan ketika dia mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun.
Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan dia juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu.
Dia menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.




6. Al Mikhdham



Ada yang mengkhabarkan bahawa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang dia pimpin di Syria.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al-Din al-Abidin’.




7. Al Rasub



Ada yang mengatakan bahwa pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq’.




8. Al Qadib



Al-Qadib berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan.
Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat:
“Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.”
Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.




9. Qal'i



Pedang ini dikenal sebagai “Qal’i” atau “Qul’ay.” Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata “qal’i” merujuk kepada “timah” atau “timah putih” yang di tambang berbagai lokasi.
Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.”
Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang


By: Serpihan Serbuk Jiwa

Cara Tidur Rasulullah SAW


bismillahirrahmanirrahim
Tidur adalah salah satu kebutuhan terpenting bagi tubuh dan jiwa kita, sekaligus merupakan nikmat dari Allah SWT yang tidak ternilai. Sayangnya tidak semua orang mengerti bagaimana cara tidur yang berkualitas tinggi seperti halnya Rasulullah Muhammad SAW. Berikut ini adalah tips singkat mengenai bagaimana cara beliau ketika akan tidur dan ketika bangun tidur, semoga bisa kita ikuti 
Ketika akan tidur:
  1. Berwudhu-lah seperti wudhu ketika akan sholat;
  2. Bacalah do’a sebelum tidur. Pilihlah salah satu dari contoh doa Rasulullah SAW di bawah ini:
    1. Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa“, yang artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup”;
    2. Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka“, yang artinya: “Ya Robbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu”;
    3. Alloohumma bismika amuutu wa ahyaa“, yang artinya: “Ya Allah, dengan Asma-Mu aku mati dan aku hidup”;
    4. Allahumma aslamtu nafsii ilaika wawajjahtu wajhi ilaika wafawwadhtu amrii ilaika wa alja’tu zhahrii ilaika raghbatan warahbatan ilaika laa malja-a walaa manja-a minka illaa ilaika. Aamantu bikitaabikalladzii anzalta wanabiyyikal ladzii arsalta“, yang artinya: “Wahai Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dari nabi yang Engkau utus”.
  3. Bacalah surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas dalam posisi berbaring. Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah membaca ketiga surat tersebut setelah mengumpulkan kedua telapak tangannya dan meniupnya. Kemudian setelah selesai membaca, beliau mengusapkan kedua tangannya 3x ke seluruh badan yang mampu diusap, dengan dimulai dari kepala, muka, dan bagian depan badannya;
  4. Berbaringlah dengan memiringkan tubuh ke arah kanan;
  5. Letakkan tangan kanan di bawah pipi sebelah kanan;
  6. Dan tidurlah dengan tenang dan damai
Ketika bangun tidur:
  1. Berdoalah dengan doa yang beliau ajarkan ini: “Alhamdu lillaahil-lladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin-nusyuur“, yang artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali”;
  2. Usaplah bekas tidur dari wajah dengan tangan;
  3. Hiruplah air ke dalam hidung lalu keluarkan (semburkan) kembali. Ini disebut beristinsyaq dan beristintsaar;
  4. Sikat gigi (bersiwak);
Hal lain yang penting tentang cara tidur beliau:
  1. Tidurlah di awal malam setelah sholat Isya
  2. Jangan pernah tidur dalam posisi tengkurap (perut ada di bawah)
alhamdulillahirabbilalamin

By: Serpihan Serbuk Jiwa

Senin, 06 Agustus 2012

Lakipadada


Diulelean kumua den misa’ tu Tomanurun di Langi’ disanga Tamboro Langi’ tu umpobaine misa’ baine ballo disanga Sandabilik. Dadimi tu anakna a’pa’, iamotu: Puang Papai Langi’, Puang Maeso, Puang Sandaboro, sola Puang Membali Buntu. Iatu Puang Sandaboro umpobaine To Bu’tui Pattung (disanga duka Ao’ Gading) anna dadianni tu Lakipadada.
Lendu’ tirambanna tu Lakipadada tonna tiroi tu adinna mate, namangkato mate duka du indo’na. Mataku’ tongan tu Lakipadada tonna tandaimi kumua mintu’ tau lamate nasang. Mukkun bang natangnga’-tangnga’ tu diona kamatean. Katampakanna nara’ta’mi lan penaanna la umpengkullei male undaka’i tu naninna tau tae’ namate. Ke’de’mi ma’dua takin umpokinallo la’bo’ tallu potikna anna male samalena, apa sitonganna tae’ natandai umba tu la nanii undaka’i tu tang mate. Tonna masai-saimo lumingka, nalambiranmi dio misa’ inan tu garonto’ kayu kapua anna torro melayo indeto. Natiromi tu misa’ to matua ma’danggo’ sae umpa’kadai nakua: “E, Lakipadada, umbara la muola ammu saera indete?” Mebalimi tu Lakipadada nakua: “La malena’ undaka’ tangmate.” Nakuami te to matua: “Iake apa iato tu la mudaka’ inang tae’ ammu la unnapparanni, belanna mintu’ ia tolino la mate nasang.”
Namoi dipokadammo susito, apa nang tae’ na sule tu Lakipadada sangadinna napatarru’ lumingka la male undaka’i tu tang mate. Malebangmi la umpellambi’i tu nadaka’na sae lako rampo lako biring tasik. Belanna bo’yo’ liumo, melayomi dio biring tasik. Pakalan saemi ade’ tu tedong bulaan disanga Bulan Panarring, digente’ duka Sangnene’ umpa’kadai nakua: “E… Lakipadada, ammu indera te? Umbara tu musanga la muola? Tae’ sia raka ammu pusamo?” Mebalimi tu Lakipadada nakua: “La malena’ ma’lamban tasik undaka’ tangmate, apa tangla kuatta unnorongi tasik.” Ma’kadami tu Bulan Panarring nakua: “Moraina’ unnoronganku lian te tasik mapulu’ apa la sibasseki’ dolo.” Kadomi tu Lakipadada anna sibasse sola duai kumua: “Iatu tarukna Bulan Panarring iamora tedong tanglanapatobang dikollong, tanglanapalambun dibaroko bati’ siosso’na Lakipadada.” Nasakeimi Lakipadada tu Bulan Panarring naoronganni ullamban tasik mapulu’.
Iatonna rampomo lian, den mi misa’ to torro lan disanga Tolumuran ungkuanni kumua: “E… Lakipadada, apara sae muala ammu rampora inde tondokki?” Nakuami Lakipadada: “Saena’ undaka’ tangmate, ma’dinraka dikka’ mipokadanna’ sia mibenna’ anna tae’ angku mate?” Nakuami Tolumuran mebali: “Ma’dinko diben tu tangmate ke muturu’i sia mupogau’i te apa kupokadangko: Lapitung allo pitung bongiko tae’ ammu lamamma’ sia tae’ duka ammu la menggirik. Na iatu la’bo’ penaimmu la mupadio bang la’pekmu sae lako mangkanna tu pitung allo pitung bongi.”
Napogau’mi Lakipadada tu dipokadanni. Apa mane tallung allo tallung bongi tangmammma’, tae’mi nasa’dingi anna mamma’ sae lako korrok. Tonna tiroi Tolumuran kumua mamma’mo tu Lakipadada, naalami tu la’bo’ penainna nadu’dukki lan mai banuanna anna le’toi tu tampakna namane umpasulei tama banuanna. Meolimi Tolumuran nakua: “E… Lakipadada, millikko.” Apa inang tae’ napasa’ding. Natolei natambai apa tae’ dukapa napasa’ding tu Lakipadada. Ma’pentallunnamira ditambai namane pasa’ding anna sasa millik. Nakuami Tolumuran ungkuanni: “Ma’pari ammu mamma’ra?” Mebali Lakipadada nakua: “Tae’ra kumamma’.” Nakuami Tolumuran: “Du’dukki tu la’bo’mu ammu tiroi tu tampakna. Iake poloi tu tampakna manassa inang mamma’ko.” Nanonokmi Lakipadada tu la’bo’na, apa polo tongan tu potikna. Dikuammi kumua belanna tang mubela unturu’i tu dipokadanna, dadi inang la mateko.
Malemi tu Lakipadada ma’lopi anna malammu’ tu lopinna. Unnorongmi naembonanni uai lako biring tasik. Denmi Langkan Maega sae namale umpentiaranni anna ta’pa dao lolok sendananna Datu dao Gowa dio to’ tondon bubun. Saemi tau unnala uai, natiroi tu Lakipadada dao lolok sendana. Kendekmi tau langngan anna popengkalaoi nasolanni lako Datu. Ba’tu umba sia dipakuanni tu Lakipadada la dinii untandai tu kadadianna. Ma’katampakanna nakanassaimi Datu kumua misa’ pole’ to kapua tu Lakipadada. Dipasibalimi anakna Datu Gowa anna dadi tu anakna tallu, misa’ torro dio kadatuan Gowa, misa’ sae diong kadatuan Luwu na misa’ sule langngan Toraya.
Ada versi cerita yang mengatakan bahwa anak Lakipadada ada 4 orang. Tetapi ada juga yang mengatakan 3 orang, yakni:
–      Patta La Bunga, kembali ke Kaero, tana Toraja, membawa bendera Garuda.
–      Patta La Bantan, tinggal di Gowa.
–      Patta La Merang, pergi ke Luwu membawa keris pusaka bernama Labung Waru.
Ada juga versi lain:
–      Patta La Merang jadi raja di Gowa diberi pusaka pedang Sudang dan panji kerajaan Samparaya dengan gelar Sombae ri Gowa.
–      Patta La Bantan kembali ke Toraja dengan dua pedang yaitu: Maniang dan Dosso serta panji kerajaan Bate Manurun.
Patta La Bunga pergi ke kerajaan Luwu dengan pusaka pedang Bunga Waru dan panji kerajaan bernama Sulengka dengan gelar Pajung ri Luwu.

BY: SESEJI

Sabtu, 04 Agustus 2012

Serpihan Serbuk Jiwa Dan Nuansa Cinta Gemerlap Hiasan Dunia

Langit membelah kesunyian sore yang panjang
Debu jalanan membasuhi muka dengan tawakur.
Sesampaiku dalam perjalananku menempuh waktu denganmu
wahai..............
nuansa cinta gemerlap hiasan dunia.
Hatimu telah menjadi beku
hatimu telah mulai mengeras
seperti engkau menguasai nyawa disamping Tuhanmu.
Mereka mengandalkanmu
mereka menaruh harap agar kesejahteraan mampu menopang
segala beban dunia.
Kaubutakan matamu dengan kekuasaan
sehingga engkau lupa bahwa engkau hanyalah manusia biasa.
Dimana kautaruh hatimu..........???
Dimana kautaruh perasaanmu.............???
Saat kepuasan diberikanya padamu
saat kesenangan dunia ada ditelapak tanganmu
engkau membabi buta.
Seperti hidup ini terbuat dari uang, makanan dan pakaian.
Bagimu engkau sendiri adalah harapan bagi kaummu
padahal engkau sendiri seperti perampok yang menelanjangi air mata.
Sadarlah engkau.....................
wahai
NUANSA CINTA GEMERLAP HIASAN DUNIA
Semua diberikanya padamu
agar engkau memperjuangkan kepunyaanmu bagi kaummu
yang tertindas dan tidak mendapat keadilan.
Tapi engkau telah tersesat.
Maka.......................
Saat waktunya akan tiba dimana awan akan menjadi hitam
dan gemuruh hujan akan datang
kesunyian itu menjadi belenggu.
Disitu engkau akan melihat bahwa semuanya sudah terlambat
dan semuanya akan dirampas dari tanganmu.